31 Juli 2012

Perkembangan Pendidikan Pada Zaman Portugis


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

            Penjelajahan bangsa Portugis, seperti disebutkan B. Schrieke, hingga sampai ke Indonesia kiranya tidak dapat dilepaskan dari sejarah perbenturan antara dunia Islam – dunia Barat sejak abad pertengahan
dan juga dukungan kemajuan bidang militer dan kemaritiman mereka.
            Beberapa peristiwa penting yang lekat dalam ingatan yang melatari hal ini antara lain dikarenakan Konsili Clermont tahun 1095 M dimana Paus Urbanus II mendeklarasikan Perang Salib melawan dunia Islam, Konstantinopel, pusat imperium Bizantium, direbut Sultan Muhammad II tahun 1453 M, Bulla Paus berjudul Romanus Pontifex tertanggal 8 Januari 1455 M yang berisi pernyataan menghadiahkan Afrika untuk dikristenkan oleh Portugis, Kota Granada lepas dari kekuasaan Islam tahun 1492 M, Bulla Paus berjudul Inter Caetera Divinae tahun 1493 M membagi dunia menjadi dua bagian, masing-masing untuk Portugis dan Spanyol, Perjanjian Tordesillas tanggal 7 Juni 1494 M, menguatkan Bulla Paus tahun 1493 M, memberi hak istimewa kepada dua bangsa tersebut untuk melakukan conquistadores (penaklukan).

B. Rumusan Masalah
·         Apa tujuan Portugis datang ke Indonesia
·         Bagaimana perlakuan portugis terhadap rakyat Indonesia

C. Tujuan Penulisan
·         Untuk lebih mengenal karakter bangsa Portugis
·         Untuk menambah wawasan dan pengetahuan


BAB II
PEMBAHASAN

A. Awal Kedatangan Portugis
            Perjanjian Tordessilas (1494 M) berisi hak istimewa dari Bulla Paus untuk bangsa Portugis danSpanyol dalam hal pembagian wilayah daratan untuk dikuasai. Perjanjian tersebut menjadi dasarperjalanan mereka untuk melakukan politik ekspansi ke daratan Asia dan Afrika. Tujuan tersebutjelas karena pada dasarnya, bangsa Eropa menganggap diri mereka sebagai orang-orang yangmendapatkan tugas suci dari Tuhan untuk menyelamatkan penduduk selain bangsa mereka kejalan yang benar.
            Portugis pertama kali singgah di Malaka tahun 1509 M setelah sebelumnya menaklukkan kerajaan Goa di India. Ini berarti Portugis hadir di Indonesia hampir satu dekade setelah Raden Patah mendirikan kerajaan Islam Demak di pulau Jawa. Tahun 1511 M Malaka sudah dapat dikuasai oleh Portugis di bawah Afonso de Albuquerqe (1459-1515 M).
            Dua tahun kemudian, Pati Unus putra Raden Patah memimpin armada menyerang kekuasaan Portugis di Malaka, tetapi berakhir dengan kegagalan. Berikutnya Portugis bergerak untuk menguasai daerah rempah-rempah yang berpusat di Maluku (berasal dari istilah bahasa Arab: Jazirat al-Mulk, yakni kepulauan raja-raja). Ketika Portugis menjejakkan kakinya di Maluku, seperti diutarakan oleh Russell Jones, Islam telah mengakar di kalangan penduduk setempat sekitar 80 tahun. Di daerah ini khususnya Ambon, melalui peran ordo Jesuit hingga tahun 1560 M, tercatat ada sekitar 10.000 orang yang memeluk Roma Katholik dan bertambah menjadi 50.000 hingga 60.000 pada tahun 1590 M.
            Sementara ordo Dominikan mampu mengkonversikan kedalam agama Roma Katholik sekitar 25.000 orang di kepulauan Solor. Dari catatan Ismatu Ropi, Katholik Roma ini merupakan fase kedua masuknya Kristen ke Indonesia melalui jasa ordo Jesuit di bawah payung organisasi Society of Jesus dan ordo Dominikan yang turut hadir bersama armada Portugis. Fase pertama adalah masuknya Gereja Timur Nestorian yang ditengarai sempat muncul di Sibolga Sumatera Utara sekitar abad ke-16 juga. Sedangkan fase ketiga adalah Kristen Protestan yang muncul bersamaan dengan armada pelayaran Belanda.

B. Sistem Pendidikan Agama
            Praksis pendidikan pada masa Portugis ini secara mendasar dikerjakan oleh organisasi misi Katholik Roma. dimana pengajar-pengajar didatangkan langsung dari portugis. diantara mereka Baru pada tahun 1536, di bawah Antonio Galvano, penguasa Portugis di Maluku, didirikan sekolah seminari yang menerima anak-anak pemuka pribumi. Selain pelajaran agama,
            Mereka juga diajari membaca, menulis dan berhitung. Sekolah sejenis dibuka di Solor dimana bahasa Latin juga diajarkan kepada murid-muridnya.  Mereka yang berkeinginan melanjutkan pendidikan dapat pergi ke Goa – India yang ketika itu merupakan pusat kekuatan Portugis di Asia.
            Kedatangan mereka yang selalu dibarengi dengan para misionaris Roma Katholik, membuat setiap daerah yang mereka datang menjadi memiliki gereja dan sekolah. Sekolah pertama yangdidirikan oleh orang-orang Portugis adalah di pulau Ambon pada tahun 1536 (Supriadi, 2003).Pada masa kepemimpinan Antonio Galvao waktu itu, yang didirikan adalah sekolah seminariuntuk anak-anak pribumi.

            Tentunya selain mengajarkan agama Katholik, mereka juga mengajarkan pelajaran calistung. Sekolah sejenis juga dibuka di daerah kepulauan Solor tetapidengan menambahkan bahasa Latin dalam mata pelajarannya. Sekolah keguruan pertamadidirikan beberapa saat setelahnya di daerah Ternate oleh kaum pendeta Portugis.Ketika Portugis menjejakkan kakinya di Maluku, seperti diutarakan oleh Russell Jones, Islamtelah mengakar di kalangan penduduk setempat sekitar 80 tahun.

           

Di daerah ini khususnyaAmbon, melalui peran ordo Jesuit hingga tahun 1560 M, tercatat ada sekitar 10.000 orang yangmemeluk Roma Katholik dan bertambah menjadi 50.000 hingga 60.000 pada tahun 1590 M.Sementara ordo Dominikan mampu mengkonversikan kedalam agama Roma Katholik sekitar25.000 orang di kepulauan Solor.

            Katholikisasi yang masifini pada akhirnya mengakibatkan penyebaran Islam di daerah Timur nusantara menjadi terhenti.Selain mengemban misi penyebaran agama Katholik (Gunawan, 1995), kedatangan orang-orangPortugis juga untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya dari hasil perdagangan. Merekaselalu berusaha memonopoli perdagangan dengan cara-cara kasar sehingga bangsa Portugiskurang disukai.

            Tidak salah bila pada masa ini sering terjadi pergolakan yang penuh denganperebutan kekuasaan. Tetapi, pada akhirnya kedatangan bangsa Belanda di bumi nusantaraberhasil menghalau Portugis hingga ke wilayah Timor Timur pada tahun 1641. Seluruh gerejadan sekolah yang telah dibangun oleh Portugis, diambil alih sepenuhnya oleh Belanda. Berbagaiupaya bahkan dilakukan untuk menghilangkan pengaruh Portugis di bumi Nusantara, sepertidengan mengajarkan agama Kristen di sekolah-sekolah dan mengganti penggunaan bahasaPortugis dengan bahasa Belanda yang juga diajarkan di sekolah-sekolah (Said dan Affan, 1987).








BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
            Perkembangan pendidikan di zaman Portugis ini dapat dinyatakan berpusat di Maluku dan sekitarnya, sebab di daerah-daerah lain kekuasaan Portugis kurang begitu mengakar.

B. Saran
            Keberhasilan Belajar adalah Indikator yang dijadikan sebagai tolak ukur dalam menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil, maka dari itu saya mohon maaf bila ada kesalahan baik itu disengaja maupun tidak disengaja. Kritik dan saran teman-teman sangat ditunggu.












DAFTAR PUSTAKA

Belajar dan factor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: PT. Rinekacipta.Sutikono, Sobry. 2008.
Landasan Pendidikan. Bandung: Prospect.Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakaya Offset.Syah, Muhibbin. 2005.
Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.[1] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:Balai Pustaka, 1996) hlm. 343

3 komentar: